Dia Inuk, Sahabatku

by - May 05, 2011

saya mendapat tugas cerpen dari guru bahasa Indonesia saya, saya diperintahkan mempost cerpen saya di blog, orang2 membuat cerpen mengenai langit (seorang anak lelaki yang hilang ditelan gajah dewasa) cuma gue sendiri yang mahiwal bikin cerita sendiri. biarin lah yaaa :'( 

Tidak ada yang menyenangkan di pagi ini. Aku membuka mataku dan menatapi langit-langit kamar tidurku. Aku berpikir sejenak sebelum memulai segala aktivitas rutin yang biasa aku jalani. Ingin rasanya aku meniadakan hari ini, tanggal ini. Tanggal 9 Maret 2011. Aku ingin langsung tanggal 10 Maret, hari dimana mamaku melahirkanku ke bumi.
                Kakaaa bangun !!” mama setengah berteriak membangunkanku yang sudah bangun dari pintu. “Iya maaaa udah bangun ko!” jawabku. Aku langsung bergegas turun dari tempat tidur dan merapikannya. Setelah mandi dan berseragam, kami sekeluarga duduk bersama untuk sarapan. Di acara sarapan hari ini pun tetap tak ada yang istimewa.
                Aku pergi bersekolah bersama papa dengan mobilnya. Pulangnya aku lebih senang berjalan bersama Inuk, sahabat karibku. “Dah papa!” kataku sembari melambaikan tangan kanan. Papa hanya tersenyum seperlunya dari dalam mobil. Aku pun berjalan menuju kelasku di ujung lorong pertama. Di kelas ternyata sudah banyak yang datang. Mereka sedang sibuk mengerjakan PR yang seharusnya diganti menjadi PS (Pekerjaan Sekolah).
                Aku masih duduk sendiri. Teman sebangku sekaligus sahabat karibku belum terlihat batang hidungnya. Kemana dia? Mungkin masih di jalan. Tak lama lonceng berbunyi tanda pelajaran akan segera dimulai. Aku mulai cemas. Apakah Inuk benar-benar tidak akan masuk? Tidak biasanya ia telat seperti sekarang. Entah kenapa akhir-akhir ini ia jadi lebih sering terlambat.
                Terdengar suara derap langkah sepatu hak dari arah luar. Semua siswa langsung pontang-panting duduk di bangku masing-masing. Bu Rani masuk ke dalam kelas dengan tatapan bingung. Di belakangnya ada seorang murid yang sempoyongan membawa tumpukan buku. Murid itu berkulit hitam manis dan menenteng sebuah ransel yang tampak sudah perlu diganti. Ya, tak salah lagi itu adalah Inuk.
                Inuk duduk di sebelahku dengan nafasnya yang masih tersenggal-senggal. “Kamu darimana aja?” kataku setengah berbisik. “Ngga dari mana-mana. Aku hanya sedikit terlambat.” Jawab Inuk sambil tersenyum lebar. Senyum ini adalah senyum yang selalu menemaniku tiap hari. Kami selalu bersama. Rumah kami pun tidak terlalu jauh. Kesederhanaan Inuk mampu membuatku nyaman bersamanya.
                Kami mengikuti pelajaran seperti biasanya. Kali ini pelajaran biologi. Tak ada tugas tak ada ulangan. Kami hanya mendengarkan Bu Rani menjelaskan pelajaran sambil sesekali tertawa mendengar guyonan beliau. Ketika semua orang tertawa terbahak-bahak, kulihat Inuk hanya tertawa seadanya. Bahkan kadang-kadang ia hanya melamun ketika semua orang tertawa. Aku heran, mengapa ia tak seceria beberapa hari yang lalu. Tapi aku tak berani menanyakannya, aku takut ia jadi tidak enak.
                Ketika pulang, aku berjalan beriringan dengan Inuk seperti biasa. Kami sesekali mengobrol mengenai pengalaman kami masing-masing. Namun, Inuk kini lebih banyak mendengarkan ceritaku daripada bercerita tentang kehidupannya. Aku terus berceloteh mengenai keadaan keluargaku. Inuk hanya mendengarkan sambil sesekali mengomentari namun hanya sedikit.
                Di pertigaan kami berpisah. Aku berbelok ke Jalan Khatulistiwa. Ia masih harus berjalan beberapa blok lagi untuk sampai ke rumahnya di jalan Jambu. Akhirnya aku sampai di rumah. Ibu menyambutku sambil menyiapkan makan siangku. Aku menyimpan tas di sofa dan langsung menghampirinya. Kami makan bersama. Aku menceritakan ceritaku tentang sekoah hari itu. Ibu mendengarkan dengan seksama. Aku juga menceritakan perilaku aneh Inuk.
                Setelah mengerjakan beberapa PR, aku langsung tidur. Aku harus bersiap untuk hari esok. Semoga di hari ulang tahunku esok akan ada kejutan dari teman-teman atau mama papa. Aku tertidur lelap dengan earphone menempel di telingaku.
                Paginya mama membangunka
nku lebih pagi. Aku diminta turun ke lantai bawah dengan cepat. Tanpa berganti pakaian atau bahkan cuci muka. Aku sudah berfirasat mama dan papa pasti mau mengucapkan selamat ulang tahun padaku. Benar saja, mereka sudah menyiapkan sebuah kue ulang tahun berwarna cokelat kesukaanku. Di atasnya tertulis namaku dan dua buah lilin yang berbentuk angka 12. Hari ini merupakan hari jadiku yang ke-12 tahun.
                Aku senang sekali hari itu. Walaupun hampir tiap tahun mama dan papa merayakan ulang tahunku seperti ini, tapi aku selalu senang. Kami menyanyikan lagu ulang tahun bersama. Walaupun hanya bertiga, namun sudah cukup bagiku. Aku meniup lilin itu dengan hati-hati sambil mengucapkan harapan-harapanku di usia 12 tahunku di dalam hati. Mama dan papa bertepuk tangan ketika aku meniupnya. Mereka berdua mencium keningku bergantian. Aku berterima kasih pada mereka. Mereka mendo’akan kesuksesan dan kebahagiaanku.
                Papa mengeluarkan sebuah kado untuk aku. Kertas kadonya bergambar Spongebob Squarepants, tokoh kartun favoritku. Kadonya berbentuk kotak dan cukup ringan. Aku membukanya dengan semangat. Ternyata isinya adalah sebuah speaker portable berbentuk Hello Kitty. Sebenarnya aku tidak memiliki sebuah target untuk kado tahun ini. Tapi, sebuah speaker portable ini sudah lebih dari cukup bagiku. Terima kasih mama, terima kasih papa.
                Mama memotongkan kue untukku, untuknya dan untuk papa. Kami makan bersama. Kuenya enak sekali. Mama tau aku tidak suka krim yang terlalu manis. Jadi ia sengaja memilih kue dengan krim yang tidak terlalu manis. Sungguh enak dan pas di lidah. Kami bertiga tidak mungkin menghabiskan kue itu. Jadi, sisanya mama simpan di dalam kulkas supaya tetap awet.
                Setelah memeluk mama dan papa, aku kembali ke atas. Aku menyimpan speaker itu ke kamar dan bersiap untuk sekolah. Aku mandi, berseragam, dan turun ke bawah. Papa sudah siap pergi dan mama tampak sibuk di dapur. Aku pamit pada mama. Mama memberiku sebuah kue bolu yang sudah terbungkus rapi. “Ini berikan pada teman-temanmu di sekolah!”. Aku menerimanya. “Oke!”. Aku berangkat ke sekolah dengan bolu besar di pangkuanku.
                Sesampainya di sekolah, papa membawakan kue itu sampai ke kelasku. Ternyata baru sedikit yang datang. Papa menyimpannya di bawah mejaku. “Papa pergi dulu ya!” papa pergi sambil memberiku senyum khasnya. Rafi yang melihat aku membawa kue langsung menggodaku. “Asyik ! ada yang mau bagi-bagi kue nih!”. Aku tersenyum sambil menimpali “Tapi nanti dimakannya waktu istirahat ya!”. Semua tersenyum sambil sesekali melirik ke arah bawah mejaku.
                Bel masuk pun berbunyi. Seperti kemarin, Inuk belum datang. Aku yakin ia pasti terlambat lagi. Lima menit aku menunggu Inuk, ia belum nampak juga. Lima belas menit kemudian Bu Sari guru PKN masuk dan memulai pelajaran. Aku cemas dengan Inuk. Sudah 30 menit pelajaran ia masih belum datang juga. Apakah dia tidak akan masuk? Padahal ini kan hari ulang tahunku. Ia bahkan belum mengucapkan selamat lewat SMS. Perasaan cemasku berubah menjadi kesal. Kesal karena Inuk tidak mengucapkan selamat ulang tahun juga tak memberi kabar kenapa ia tidak masuk.
                Jam istirahat pun tiba. Sesuai janjiku pagi tadi, aku harus membagi kueku pada teman-teman. Seperti biasa, kami menyanyikan lagu ulang tahun sambil meniup lilin dan memotong kue. Sebelum memakan kue, teman-teman mendo’akan aku dan memberi ucapan selamat. “Nad, kemana Inuk?” Daisy bertanya padaku. Aku mengangkat bahu “Dia tak memberi kabar.” Jawabku singkat. Ketika memotong kue, aku sengaja memotong kue dengan ukuran yang lebih besar untuk aku beri pada Inuk nanti.
                Ketika pulang sekolah, aku menghampiri sebuah bangku panjang di luar sekolah. Di bangku itu biasanya aku dan Inuk duduk bersama untuk melepas lelah dalam perjalanan pulang. Inuk jga biasa memberiku ucapan dan kejutan ulang tahun di situ. Aku berharap ia akan datang dan memberiku kejutan. Aku duduk sambil memegangi kue yang aku sisakan untuk Inuk. Aku mengirim sebuah SMS kepada Inuk. Inuk, ko kamu ga masuk? Hari ini kamu ingat hari apa? Aku tunggu di bangku biasa ya!
                Aku menunggu Inuk sambil mendengarkan lagu di handphoneku dengan menggunakan earphone. Aku menyanyi-nyanyi sambil sesekali menghentakkan kakiku mengikuti irama lagu. Tak terasa sudah 2 kali aku memutar playlist lagu di handphoneku. Itu tandanya aku sudah menunggu kira-kira selama satu jam setengah. Aku sudah kesal. Inuk tak kunjung datang. Akhirnya aku putuskan pulang sendiri tanpa Inuk.
                Sesampainya di rumah, aku disambut ibu seperti biasa. “Kok cemberut gitu sih Nad?” kata ibu sambil mengelus kepalaku. “Lagi sebel mah!” jawabku sambil menekuk alis, tanda marah. “Kenapa?” tanya mama lagi. “Itu tuh mah Inuk. Masa dia ngga ngucapin selamat ulang taun ke aku sih mah. Dia kan sahabat aku dari dulu. Dia bahkan ga masuk dan ngga ngabarin aku.” Aku mengeluarkan seluruh kata yang ada di kepala. “Mungkin dia ada keperluan mendesak.” Jawab mama meyakinkan. “Tapi ga gini juga kali. Apa susahnya sih bales SMS.” Kataku sambil naik ke lantai atas.
                Ternyata Inuk tak masuk sampai 3 hari berturut-turut. Lelah rasanya memikirkan dia. Sudah ratusan SMS dan ribuan telepon aku lakukan, tapi tak ada respon sama sekali dari Inuk. Akhirnya aku putuskan untuk melupakan kejadian ulang tahun itu. Mungkin Inuk memang lupa atau dia memang sengaja melupakanku. Sudahlah, aku sudah tidak peduli.
                Ini hari keempat sejak Inuk tidak masuk. Aku masih duduk sendiri tanpa teman. Di kelasku memang posisi duduk sudah diatur dan tidak berubah-ubah. Jadi tak ada yang menemaniku karena takut teman sebangkunya marah jika pindah ke bangku lain. Aku merasa kesepian tanpa Inuk. Tapi aku juga masih kesal padanya. Inuk, sebenarnya kamu dimana?
                Bel pulang berbunyi, dengan lunglai dan tanpa teman aku berjalan sendirian. Memang semenjak Inuk tak masuk, aku pulang ke rumah sendiri. Lama sekali rasanya aku berjalan. Biasanya pulang itu terasa cepat sekali bila sambil mengobrol. Kami bisa bertukar cerita dan berbagi pengalaman di perjalanan. Itulah sebabnya aku lebih memilih pulang berjalan bersama Inuk daripada menunggu papa pulang dari kantor dan menjemputku.
                Dari jauh aku melihat seseorang duduk di bangku tempat aku dan Inuk biasa duduk. ia mengenakan pakaian kaos dan rok hijau. Rambutnya terurai sebahu. Tak salah lagi itu adalah Inuk. Aku sudah sangat kesal padanya. Rasanya aku malas menyapanya dan ingin langsung pulang. Aku tak bernafsu menanyakan mengapa ia tidak sekolah beberapa hari ini. Aku tak begitu peduli padanya kini.
“Happy Birthday Nadya ! Happy Birthday Nadya !” Inuk menyanyikan lagu ulang tahun untukku. Ia membawa sebuah kue tart kecil dengan sebuah lilin mungil di atasnya. Entah kenapa aku hanya ingin menatapnya dingin. Padahal biasanya aku selalu bahagia bila Inuk menyanyikan lagu ulang tahun untukku. Inuk melanjutkan menyanyikan lagu ulang tahun itu untukku. Aku hanya berekspresi dingin sambil sesekali menatap tanah atau langit. Aku malas menatap matanya.
“Selamat ulang tahun Nadya ! aku do’akan semoga kamu menjadi manusia yang lebih baik dari kemarin! Maaf ya telat.” Kata Inuk sambil memeluk tubuhku. Aku tak membalas pelukannya. Dia memberiku kue yang ia pegang. Aku menerimanya “Makasih.” Kataku dingin sambil melangkah pulang. Inuk hanya berdiri mematung di belakang. Dalam hatiku rasanya puas untuk melakukan ini karena kesalahan yang Inuk lakukan kemarin. Aku merasa sudah membalaskan sesuatu yang aku inginkan dari kemarin-kemarin.
Inuk tiba-tiba menarik tanganku dari belakang. Ia memegang tangan kananku dengan kedua tangannya. “Nad, maafkan aku Nad. Bukan maksud aku untuk melupakan hari ulang tahunmu.” Kata Inuk sambil membendung air mata di matanya. “Ngga lupa apanya? Kamu emang lupa!” aku tak mau kalah. “Tapi Nad..” Inuk berkata lagi, ia kini sudah tidak bisa membendung air matanya lagi. Air mata sudah membasahi pipinya. “APA? Oke kalo kamu ga ngucapin selamat ke aku. Tapi aku SMS sama telepon kamu, kamu selalu ga respon. Aku cape tau! Kamu ga mikirin perasaan aku!” Puas rasanya aku mengatakan ini pada Inuk. Aku rasa dia memang pantas mendapat kata-kata tadi.
“Nad, aku mau ngejelasin sesuatu sama kamu.” Kata Inuk sambil menunduk. “Ngejelasin apa sih Nuk? Aku mau pulang nih!” kataku sewot. Inuk menarik lenganku lembut dan mendudukkanku di bangku kayu kesayangan kami. “Nad, sekali lagi aku minta maaf. Sebenarnya aku udah nyiapin kue ulang tahun dan kado untuk kamu pas hari ulang tahun kamu. Tapi..” Inuk menghentikan kalimatnya. Aku hanya menatap sekeliling sambil mengerutkan alis tanda tak ingin mendengarkan apa yang diucapkan Inuk.
“Tapi Nad ayahku meninggal dunia” Inuk menutup mukanya dengan kedua tangannya. Air matanya mengalir deras. Aku tersentak dan menatapnya lekat-lekat. “Ayah pulang tepat di hari ulang tahunmu. Selama ini aku terlambat karena aku harus membantunya mandi dan sarapan. Ia sudah sakit keras. Ketika meninggal, aku sangat terpukul dan tak tahu harus bagaimana. Ibu tidak bekerja dan adikku ketiga-tiganya masih sekolah. Kami tak tahu apa yang harus kami lakukan. Ibu tak mungkin mencari pekerjaan. Kau tau sendiri ia hanya bisa berjalan dengan kursi roda.”
Aku memegang pundak Inuk. “Akhirnya kami sekeluarga memutuskan untuk pindah ke rumah kakek di Padang. Kami sudah tinggal di sana beberapa hari. Hari ini aku datang untuk mengurus berkas-berkas kepindahanku dan mengemas barang-barang yang belum sempat dibawa. Selain itu, aku ingin mengucapkan selamat ulang tahun dan salam perpisahan untukmu.” Aku pun tak kuasa membendung air mata yang tanpa sengaja sudah menetes sejak tadi.
“Ini hadiah dariku. Maaf kalo kamu ngga suka. Ini bisa dijadikan kenang-kenangan untukmu dariku.” Inuk mengeluarkan bungkusan kecil dari ransel yang biasa ia pakai. Aku menerimanya dan membukanya. Isinya adalah sebuah buku diary kecil dengan foto aku dan Inuk di cover depannya. Aku terharu sekali menerima hadiah dari Inuk ini. Aku memeluknya hangat. Inuk membalas pelukanku. Kami berpelukan sambil menangis dalam waktu yang cukup lama.
Tak tahan rasanya aku untuk tidak menangis. Tak ingin rasanya untuk melepas kepergian Inuk. Aku ingin Inuk tetap di sini untuk menemaniku. Aku masih ingin bercanda tawa dengannya. Berbagi kisah setiap hari sepulang sekolah. Saling menolong saling membantu satu sama lain. Rasanya aku ingin berteriak mengapa dunia ini harus memisahkan aku dan Inuk. Inuk, aku ingin tetap menjadi sahabatmu. Jangan pergi Inuk.
Inuk melepaskan pelukannya. Aku menunduk sambil terus menangis. “Jangan menangis Nad, kita ngga akan berpisah untuk selamanya. Suatu saat kita pasti bertemu lagi.” Inuk menguatkanku. Tapi kapan? Aku ngga mau kamu pergi! Kenapa kamu harus pergi sih?” aku menutup mukaku dengan tangan. “Mungkin suatu saat dhi mana kita udah sukses atau saat kita uda punya anak Nad.” Inuk tersenyum. “Katanya tadi mau pulang. Ayo aku antar sampe depan rumah kamu.” Kata Inuk sambil berdiri dan mengulurkan tangannya ke arahku.
“Jangan dulu. Aku masih mau sama kamu!” aku masih menutup mukaku. “Nad, bukannya aku tak mau lama-lama tapi aku sudah ditunggu ibu dan adik-adikku di rumah. Kereta akan berangkat setengah jam lagi.” Aku pun menurut. Di perjalanan pulang aku terus terisak dan memegangi tangan Inuk dengan kedua tanganku. Inuk malah menyanyikan lagu ulang tahun untukku. Aku hanya bisa mendengarkan suara merdunya sambil terus mengucek mataku yang tak kunjung reda mengeluarkan air mata.
Di depan rumah, “Nad, maaf ya selama ini selalu merepotkanmu. Aku tak bisa menjadi teman yang baik buat kamu, maaf juga udah mengecewakan kamu di hari ulang tahunmu kemarin.” Kata Inuk sambil tersenyum berusaha tegar. Aku hanya bisa mengangguk sambil terus mengeluarkan air mata. “Terima kasih untuk semua kebaikanmu. Aku ga mungkin bisa membalas semuanya. Biar yang di atas balas itu semua untuk kamu.” Tangisanku makin menjadi-jadi. Aku memeluk Inuk erat-erat. Tak ingin aku lepas rasanya. “Inuk, maafin aku yaa. Aku udah salah sangka sama kamu. Makasih juga buat semuanya. Buat semua pelajaran yang kamu kasih ke aku.” Inuk melepas pelukan kami.
Ia melambaikan tangan sambil berkata “Dadah Nadya ! Sampai Jumpa ! Kamu sahabat aku yang paling baik di dunia ini. Suatu saat kita akan bertemu lagi!” dia setengah berlari meninggalkanku. Aku hanya bisa melambaikan tangan sambil menatap kepergiannya. Aku masuk rumah dengan keadaan mata berair. Aku langaung masuk ke kamar. Aku masih ingin melanjutkannya di kamar.
Aku buka halaman pertama buku diary yang diberi Inuk. Di sana tertulis
Tuhan, aku sangat sangat berterima kasih padamu
Terima kasih engkau mempercayakan Nadya untuk menjadi temanku
Terima kasih engkau telah mengirimnya untuk menemani aku selama ini
Aku sangat bersyukur memiliki teman sebaik Nadya
Tapi tuhan aku sudah mengecewakannya untuk beberapa kali
Pasti dia sangat marah padaku
Tapi tuhan tolong sampaikan padanya permohonan maafku
Tolong katakan ini bukan keinginanku
Keadaan yang memaksaku
Sekali lagi terima kasih engkau telah memberikan kesempatan untuk aku mengenal Nadya, teman yang akan selalu aku ingat walaupun kita tidak bersama-sama lagi
Terima kasih Nadya untuk semua kebaikanmu
Walaupun kita tidak duduk sebangku lagi atau pulang bersama lagi, tapi kita tetap sahabat.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                -Inuk-

You May Also Like

0 comments