Sesuatu tentang Takdir
Kalo ada yang mati bunuh diri, berarti emang Allah udah nakdirin gitu dong. Kasihan dong dia. mau sekeras apa usahanya dia da tetep aja takdirnya bunuh diri. Itu pikiran aku yang sulit banget disanggah sama aku sendiri. Tapi udah baca bukunya Felix Siauw yang Beyond Inspiration, aku jadi tercerahkan sedikit. ehehe. Semoga yang baca juga ya~
Ada sebuah ilustrasi yang sangat masyhur, adalah seorang
pencuri yang tertangkap pada masa pemerintahan Islam sedang jaya-jayanya. Sang pencuri
ini tengah diproses oleh seorang Hakim. Lalu, Si Pencuri berkata membela diri “Wahai tuan hakim, sungguh tidak pantas tuan
menghukum saya”, dia melanjutkan “karena
apa yang saya lakukan ini sesungguhnya sudah diketahui oleh Allah dan Allah
membiarkannya (mengizinkannya), dan sesungguhnya Allah lah yang berkehendak
atas terjadinya pencurian ini dan kita semua tahu, di lauhul mahfudz
sesungguhnya telah tertulis semua aktivitas kita dari mulai dilahirkan sampai
kita menemui ajal, termasuk pencurian ini sesungguhnya telah tertulis di kitab
tersebut sehingga tidak pentas tuan hakim menjatuhkan hukuman kepada saya
karena perbuatan ini bukan karena kehendak saya melainkan kehendak Allah Swt”
Hakim itu berfikir lama tentang persoalan tersebut. Akhirnya,
setelah lama berfikir, dia mengeluarkan keputusan untuk menghukum Si Pencuri
itu. “Baik, masukkan dia ke dalam sel
penjara!” ujarnya.
Si Pencuri protes kepada tuan hakim dengan penjelasannya
yang panjang lebar tadi, yang intinya bahwa pencurian itu bukan kehendaknya
tetapi kehendak Allah, atau sudah nasibnya. Sang Hakim pun berkata dengan
tenang, “Sebenarnya saya tidak mau
menjatuhkan hukuman kepadamu, namun bagaimana lagi, ini juga kehendak Allah dan
di lauhul mahfudz juga sudah tertulis pada hari ini dan waktu ini, saya
menjatuhkan hukuman penjara bagimu!”
Jadi, intinya, kita jangan mencampurkan aktivitas Allah
sebagai pencipta sama aktivitas kita sebagai ciptaan. Kebanyakan kasus itu
mencampurkan aktivitas Allah dan ciptaan, padahal ranah pekerjaannya saja sudah
beda. Allah tidak terbatas oleh waktu, tempat, dan materi, sementara kita tentu
saja terbatas. Jadi kita sebagai manusia tinggal melaksanakan tugas dan
hari-hari kita supaya Allah ridha untuk memberikan kita takdir yang baik. Tapi,
kalau suatu saat takdir kita tidak sesuai (baik menurut pendapat kita), berarti
itu memang bukan yang terbaik buat kita. Ingat, Allah kan yang menciptakan,
berarti Allah yang lebih tahu.
Jadi, benar pepatah ‘do your best and let God do the rest’. Lagipula
Allah itu kan Maha dari segala Maha, jadi ilmu kita ga bakal sampai untuk
memahami konsep kerjanya. Lagian Allah juga udah negasin yang tahu semua itu Cuma
Allah, jadi kita hanya dianjurkan untuk meyakininya saja, bukan untuk
memikirkannya. Terjawab sudah bahwa kita emang harus yakin kalo Allah emang
udah punya takdir yang udah ditentuin dari kita lahir. Kita juga harus berusaha
semaksimal mungkin setiap saat supaya takdirnya menjadi ‘lebih baik’. Bukan memilih
salah satunya. Sip.
0 comments