A little shocking speech of the month
Beberapa hari yang lalu, di
acara pra MBC (Ospek Jurusan Elektroteknik) terdapat sebuah seminar mengenai
berprestasi di bidang elektroteknik. Ketiga pembicara sangat menarik untuk
disimak. Namun, ada sebuah topik yang membuat saya berpikir karenanya. Ada
teman saya, Uwi, bertanya kepada seorang dosen Teknik Tenaga Listrik yang
spesialisasinya adalah kabel bawah laut, Bapak Syaiful. Pertanyaannya adalah
bagaimana prospek kerja wanita di bidang elektroteknik.
Beliau menjawab.
Terus terang saya kurang setuju
dengan fenisme. Wanita dan pria memang sama, namun tidak bisa disamakan. Pria itu
seperti tulang, dia keras dan tidak mudah dibengkokkan. Kalau wanita seperti daging,
lunak dan lentur. Keduanya berbeda dan memiliki fungsi masing-masing. Tubuh kita
tidak dapat bergerak apabila terdiri dari tulang saja, atau daging saja. Mereka
ada untuk saling melengkapi. Selain itu, daging tidak perlu mengeras-ngeraskan
diri seperti tulang, karena sampai akhirnya dia tidak bisa menyamai kerasnya
tulang. Begitupun tulang, dia harus kuat, tidak bisa menyerupakan dengan
daging.
Kalian tahu, mengapa negara
Jepang bisa bertahan begitu lama? Salah satunya karena para ibu-ibu di sana
rela untuk tidak bekerja, demi mengurus anak dan rumah tangganya. Mereka membesarkan
anak-anaknya dengan penuh kasih sayang. Sebagian besar mereka adalah full time
mom. Namun, kini Jepang mengalami krisis
kekurangan sumber daya manusia, untuk itu para ibu dipaksa bekerja untuk
memenuhi kebutuhan sumber daya. Ini merupakan jalan terakhir yang dipakai
pemerintah Jepang, mereka tahu ini beresiko.
Survey mengatakan bahwa 90%
remaja pecandu narkoba berasal dari kedua orang tua yang berstatus sarjana. Lalu
bagaimana bisa kedua orang tuanya berpendidikan tinggi namun anaknya malah
salah jalan? Karena kedua orang tuanya terlalu sibuk bekerja. Para anak hanya
akan dibimbing oleh asisten rumah tangga yang tentu tidak secerdas ibu bapak mereka.
Mereka tidak dapat menikmati pendidikan dini yang seharusnya orang tua mereka
bisa berikan dengan layak.
Seharusnya para anak mendapatkan
pendidikan pertamanya di rumah. Di sinilah ilmu-ilmu akan diserap dengan baik. Nilai-nilai
dalam keluarganya lah yang kelak akan ia bawa keluar. Norma-norma itulah yang akan
membedakannya dengan anak lain. Dari seorang ibu, seharusnya seorang anak akan
mendapatkan nilai ketulusan. Nilai yang sulit akan ia temukan di luar sana,
karena tidak akan ada orang yang lebih tulus mencintai kita selain ibu. Nilai inilah
yang akan ia pancarkan ke sekelilingnya agar ia dapat berinteraksi dengan baik.
Nilai-nilai ketuhanan, kejujuran, kesopanan semuanya harus ditularkan oleh
orang tuanya. Karena nilai hanya bisa
ditularkan, bukan dipelajari.
Terakhir beliau mendo’akan
istrinya, karena telah mendampinginya berumah tangga, agar Allah selalu
menjaganya dan memberinya kebahagiaan.
Jadi kalo masih ada yang berfikir buat apa perempuan sekolah tinggi-tinggi? ya salah satunya buat anak kita kelak. Wanita adalah madrasah peradaban. Peradaban ada di pundak wanita.
0 comments