A little shocking speech of the month

by - June 22, 2014


                Beberapa hari yang lalu, di acara pra MBC (Ospek Jurusan Elektroteknik) terdapat sebuah seminar mengenai berprestasi di bidang elektroteknik. Ketiga pembicara sangat menarik untuk disimak. Namun, ada sebuah topik yang membuat saya berpikir karenanya. Ada teman saya, Uwi, bertanya kepada seorang dosen Teknik Tenaga Listrik yang spesialisasinya adalah kabel bawah laut, Bapak Syaiful. Pertanyaannya adalah bagaimana prospek kerja wanita di bidang elektroteknik. 

                Beliau menjawab.

                Terus terang saya kurang setuju dengan fenisme. Wanita dan pria memang sama, namun tidak bisa disamakan. Pria itu seperti tulang, dia keras dan tidak mudah dibengkokkan. Kalau wanita seperti daging, lunak dan lentur. Keduanya berbeda dan memiliki fungsi masing-masing. Tubuh kita tidak dapat bergerak apabila terdiri dari tulang saja, atau daging saja. Mereka ada untuk saling melengkapi. Selain itu, daging tidak perlu mengeras-ngeraskan diri seperti tulang, karena sampai akhirnya dia tidak bisa menyamai kerasnya tulang. Begitupun tulang, dia harus kuat, tidak bisa menyerupakan dengan daging. 

                Kalian tahu, mengapa negara Jepang bisa bertahan begitu lama? Salah satunya karena para ibu-ibu di sana rela untuk tidak bekerja, demi mengurus anak dan rumah tangganya. Mereka membesarkan anak-anaknya dengan penuh kasih sayang. Sebagian besar mereka adalah full time mom. Namun, kini  Jepang mengalami krisis kekurangan sumber daya manusia, untuk itu para ibu dipaksa bekerja untuk memenuhi kebutuhan sumber daya. Ini merupakan jalan terakhir yang dipakai pemerintah Jepang, mereka tahu ini beresiko. 

                Survey mengatakan bahwa 90% remaja pecandu narkoba berasal dari kedua orang tua yang berstatus sarjana. Lalu bagaimana bisa kedua orang tuanya berpendidikan tinggi namun anaknya malah salah jalan? Karena kedua orang tuanya terlalu sibuk bekerja. Para anak hanya akan dibimbing oleh asisten rumah tangga yang tentu tidak secerdas ibu bapak mereka. Mereka tidak dapat menikmati pendidikan dini yang seharusnya orang tua mereka bisa berikan dengan layak.

                Seharusnya para anak mendapatkan pendidikan pertamanya di rumah. Di sinilah ilmu-ilmu akan diserap dengan baik. Nilai-nilai dalam keluarganya lah yang kelak akan ia bawa keluar. Norma-norma itulah yang akan membedakannya dengan anak lain. Dari seorang ibu, seharusnya seorang anak akan mendapatkan nilai ketulusan. Nilai yang sulit akan ia temukan di luar sana, karena tidak akan ada orang yang lebih tulus mencintai kita selain ibu. Nilai inilah yang akan ia pancarkan ke sekelilingnya agar ia dapat berinteraksi dengan baik. Nilai-nilai ketuhanan, kejujuran, kesopanan semuanya harus ditularkan oleh orang tuanya. Karena nilai hanya bisa ditularkan, bukan dipelajari.
 
                Terakhir beliau mendo’akan istrinya, karena telah mendampinginya berumah tangga, agar Allah selalu menjaganya dan memberinya kebahagiaan. 

Jadi kalo masih ada yang berfikir buat apa perempuan sekolah tinggi-tinggi? ya salah satunya buat anak kita kelak. Wanita adalah madrasah peradaban. Peradaban ada di pundak wanita.

You May Also Like

0 comments