ordinary CERPEN
saya, haifa nabila. naoon sih. jadi aku dapet tugas cerpen yang kedua, nah saya teh baru nyelese-in (bahasa gahol) sedikit. belum beres. sikarenakan waktu yang menghadang (sebenernya seret ide). harusnya sih udah dipost beberapa dasawarsa yang lalu (baca:hari). namun, laptop saya yang malang tersiram air raksa (baca:air putih) hingga tak sadarkan diri. ini semua akibat adik saya yang dengan brutal makan sambil maen game di laptop. walhasil laptop saya mogok kerja buat beberapa dekade. maaf ya buu :'(
ini nih cerpennya..
Kepingan Koin di Pelabuhan
Oleh : Haifa Nabila
Byuuurrr!! Beberapa anak melompat bebas ke laut. Ada yang bergaya lumba-lumba, laba-laba, angsa, dan gaya unik lainnya yang cukup menguji adrenalin. Mereka dengan riangnya melompat dan kembali naik ke atas pelabuhan hingga berkali-kali. Tak ada perasaan takut di raut-raut muka mereka. Seorang anak bahkan berani melompat dengan bersalto di udara hingga beberapa putaran. Sungguh mengagumkan. Ia masuk ke dalam air untuk beberapa menit. Namun, ia tak kunjung muncul ke permukaan. Dio pun sedikit penasaran. Ternyata tak lama kemudian anak tadi muncul ke permukaan dengan riangnya. Dio pun tak lagi penasaran dan membalikkan badannya pergi.
Dio menyusuri jalan-jalan di pelabuhan menuju arah keluar. Ia menggunakan sebuah ransel di punggung yang cukup berat. Di tangannya terdapat sebuah gameboy yang dikalungkan ke lehernya. Ia berjalan dingin tanpa mempedulikan riuh rendah suasana pelabuhan yang baru saja menurunkannya dari pulau sebrang. Ia dan ayahnya lalu menaiki sebuah taksi yang sudah dipesan jauh-jauh hari. Taksi itu mengantarkan mereka ke rumah baru di pulau yang cukup rendah populasi penduduknya itu. Tempat yang Dio tak suka.
“Yah, kenapa sih kita harus pindah ke hutan belantara kaya gini? Udah enak tinggal di kota!” Dio memelototi ayahnya yang sedang serius dengan teropong binokulernya. “Memangnya kenapa Dio?” ayahnya memelorotkan kacamata dan melirik ke arah Dio. “Aku gak akan betah di sini! Kenapa sih ayah pindah-pindah mulu?” Dio ketus. “Ini tuntutan pekerjaan sayang, ayah harus meneliti kehidupan primitif sekelompok orang di salah satu pedalaman di daerah sini.” Jelas ayah. “Huh, terserah ayah!” Dio masuk kamar. Ayahnya hanya bisa geleng-geleng kepala.
Sejak ibunya meninggal, Dio menjadi anak yang sedikit sulit diatur dan keras kepala. Ia jadi sedikit liar dan mudah sekali marah. Ayahnya hanya bisa menuruti apa yang ia mau tanpa sedikitpun melarangnya. Ia takut Dio merasa tidak ada yang menyayanginya setelah ibunya. Kakaknya Dea hanya sibuk dengan urusannya sendiri. Ia tetap tinggal di Jakarta karena ia harus melanjutkan kuliah di salah satu universitas tersohor di sana. Di tempat baru ini Dio hanya tinggal berdua dengan ayahnya.
***
Teeet teeet teeet suara parau bunyi bel sekolah berbungi tiga kali, tanda jam istirahat. Dio keluar dari kelas karena merasa ingin buang air kecil. Setibanya di toilet, dia berkali-kali menutup hidungnya dengan tangan. Baunya memang tidak bisa disandingkan dengan aroma toilet rumahnya yang penuh pengharum ruangan. Dio lalu cepat-cepat menuntaskan keinginannya itu supaya cepat keluar. Setelah itu, ia langsung menuju kelasnya lagi. Tak terlintas di benaknya untuk mampir ke kantin membeli jajanan. “Ogah deh jajan di sana, jijik.” pikir Dio.
Di kelas, tampak sekelompok orang mengerubungi meja Dio. Dio heran dan menyingkirkan orang-orang di situ dengan kasar. “Awas awas! ini meja gue! ngapain kalian di sini?” Dio memandangi gerombolan itu. Kini ia ada di tengah-tengah mereka. Mereka hanya menunduk sambil sesekali saling beradu pandang. Tampak gameboy Dio tergeletak di meja dan jelas terlihat seseorang baru saja menggunakannya. “Kalian mainin gameboy gue ya?” Dio mengambil gameboynya. Mereka semakin tegang dibuatnya.
Bel masuk berbunyi. Dio masih marah-marah pada teman-teman sekelas barunya yang seenaknya meminjam gameboynya tadi. Bel itu bagai angin segar yang menerpa kawan-kawan Dio yang baru saja dicacimaki. Mereka menghela nafas dan kembali ke tempat duduknya. Pembelajaranpun dimulai. Dengan kejadian tadi, Dio semakin merasa tidak nyaman di kelas itu, bahkan di pulau itu. Ia merasa berada di pulau yang baru kemarin terjamah manusia. Kawan barunya sangat kampungan, berbeda sekali dengan kawan lamanya di kota.
Bel pulang berbunyi, Dio langsung merapikan tasnya dan hendak pergi. Ia kembali sibuk dengan gameboynya tanpa mempedulikan kelasnya, bahkan orang-orang di dalamnya. Seseorang di antara mereka menghampirinya dan berdiri tegang di depannya. Teman-teman yang lain mengerumuni mereka. Dio mempause permainannya dan menatap wajah lelaki itu dingin. “Di-di-dio, saya dan teman-teman memohon maaf atas kejadian tadi. Ka-ka-kami tidak bermaksud apa-apa.” Lelaki yang terlihat sudah mencapai usia remaja itu menelan ludah. Dio kembali menatap layar gameboynya dan melangkah keluar tanpa mempedulikan mereka.
***
Hari-hari selanjutnya, Dio dikenal sebagai anak yang dingin dan tak mau bergaul. Sudah hari kelima ia bersekolah di sana, ia belum juga berkenalan dengan seorang pun. Dio masih merasa sungkan untuk berkenalan setelah melihat pergaulan mereka yang sama sekali tak menarik buatnya. Dio lebih merasa nyaman memainkan gameboynya daripada mengobrol dengan teman sekelasnya. “Apa sih ramenya main kaya mereka. Hari gini panas-panasan,” pikir Dio dalam hati.
Hari ini Dio mulai merasa bosan dengan kesehariannya yang makin lama makin membosankan. Dia keluar dari rumah dan berjalan sendirian sambil masih mengalungkan gameboy hitam pemberian ibunya itu. Ia berjalan munuju arah pelabuhan berharap ada sesuatu yang menarik hatinya. Langit sore tampak begitu indah. Kesibukan di pelabuhan itu belum mereda. Kapal-kapal berlabuh dan menurunkan ratusan orang dari pulau lain.
Namun Dio lebih tertarik melihat anak-anak yang berenang-renang di sekitar pelabuhan.
“Ada kapal !! ada kapal !!” terdengar seorang anak telanjang dada memperingatkan teman-temannya. Anak itu berkulit hitam terpanggang matahari. Dio merasa mengenalnya. Namun ia tak begitu mempedulikannya. Ia penasaran, “emangnya kenapa kalo ada kapal?” pikirnya. Anak-anak yang sedang bermain itu lalu muncul ke permukaan dan melirik ke arah laut. Mereka mencari sosok perahu yang hendak menepi itu. Setelah memastikan kapal itu sudah dekat, mereka berenang dengan gesit ke arah pelabuhan.
Mereka naik ke atas pelabuhan. Ada yang berdiri menatap kapal, ada yang jongkok sambil memeluk lutut kedinginan, ada yang menghitung uang receh, dan ada yang berlari-lari tak jelas. Kapal itu berlabuh dengan mulus. Anak-anak tadi langsung melompat ke laut lagi. Kini mereka mulai berteriak-teriak. “Bu Pak ! Lempar uangnya !” sahut seorang anak. “Mas Mas ! Mba Mba ! Koinnya koinnya !” mereka terus berteriak-teriak saling bersahutan. Pelabuhan jadi semakin semarak.
Para pendatang tadi tertarik untuk memperhatikan mereka. Beberapa dari mereka merogoh sakunya dan melemparkan koin uang logam pecahan 100, 500, atau 1.000. Anak-anak itu lalu berenang dengan sigap untuk mengambil koin-koin itu sebelum jatuh terlalu dalam. Tak jarang mereka mempertontonkan kebolehan mereka supaya pendatang makin penasaran. Beberapa anak bahkan tak mau beranjak dari tempatnya karena kagum melihat bakat ulung anak-anak pinggir laut itu. Bahkan Dio yang sedari tadi memperhatikan mereka pun mulai kagum melihatnya. Ia tertarik dengan cara mereka mengais rezeki dengan cara yang cukup ekstrim.
“Dio!” panggil seseorang dengan suara yang sudah serak-serak basah. Usianya diperkirakan sudah menginjak SMP. Dio kaget. Ia lantas berbalik menuju arah suara. Seorang anak berkulit hitam manis yang basah kuyup tersenyum ke arahnya. “Sedang apa kau di sini?” tanya anak itu. Dio menatapnya. Dio merasa sering sekali melihat anak ini. Ia mencoba mengingatnya. Akhirnya ia tau bahwa dia adalah teman sekelasnya yang waktu itu pernah meminta maaf padanya. Mood Dio jadi turun lagi. Dia tidak suka diganggu di saat seperti ini. Akhirnya ia hanya melenggang pergi tanpa membalas senyumnya atau bahkan menjawab pertanyaan yang tadi dilontarkan padanya.
***
“Dio, habis darimana kamu ?” Sapa ayah sesampainya Dio di rumah. “Dari depan.” Jawab Dio dingin. “Dari mana? Kok kayanya kamu seneng banget sih?” tanya ayah. “Ngga dari mana-mana kok yah. Pingin tau aja sih.” Dio mulai terpancing emosinya. “Ya sudah kalo kamu ngga mau jawab. Ngga apa-apa.” Sambung ayah sambil tersenyum hangat. “Yah! Minta uang! Aku mau beli kaset video game baru!” . “Lho? Memangnya di sekitar sini ada yang menjual video game?”. “Ya ngga lah. Di dusun miskin gini emang ada yang mau beli. Aku bakalan beli via online yah. Mudah-mudahan di sini udah ada pos.” Papar Dio. “Ya udah, nih! Maaf ya Cuma cukup buat beli satu. Ayah belum bisa ngedapetin beberapa info yang dibutuhin atasan ayah. Jadi uangnya belum cair. Dio doakan ayah yah!”
Dio masuk ke dalam kamar dengan muka kusut. Di tangannya terselip pecahan 100.000,00. “Ayah pelit banget sih. Udah bela-belain jauh-jauh ke pedalaman gini. Eh, uangnya malah seret. Padahal kebutuhan aku buat main game lagi nanjak nih. Soalnya di sini ga ada hiburan lain selain main game. Pingin banget cepet-cepet pindah rumah lagi, ke tempat yang lebih layak huni. Ada mallnya, sekolahnya memadai, dan ada toko video game deket rumah. Ayaaaah kenapa sih kerjaannya kaya gini? Kenapa ngga kaya temen-temen aku aja yang ortunya pada kerja di kantoran. Kan lebih banyak dapet duit sama ga musti pindah-pindah. Sial gue.”
***
Sesosok lelaki berdiri di depan meja Dio. “Dio, kamu dipinta menemui Bu Tari di ruang guru. Katanya ditunggu sekarang juga.” Lelaki itu sudah tidak asing lagi di mata Dio. Dia adalah satu-satunya lelaki yang ia ingat di kelas itu. Dia merupakan ketua kelas. Dia juga yang menyapanya di pelabuhan tempo hari. Dia adalah salah satu dari anak-anak pemungut koin. Tapi sampai sekarang Dio belum tau siapa namanya. “Buat apa tau?” Pikir Dio.
Dio segera berdiri dan berjalan keluar kelas. Namun, ia lupa kalau ia tidak tahu di mana letak ruang guru. Ia malas keliling sekolah untuk menemukan ruang guru. Dengan sangat terpaksa, Dio memutar badan kembali ke kelas. Ia menghampiri meja sang ketua kelas untuk meminta tolong. “Hmm.. kamu! Ruang guru itu di mana?” tanya Dio. “Mari saya antar!” tanpa pikir panjang, lelaki itu berdiri dan berjalan bersama Dio.
“Nama saya Shalamar. Kamu bisa memanggilku dengan Amar.” Lelaki itu memperkenalkan diri. Dio hanya menggangguk sambil melihat ke arah lain. Sesampainya di ruang guru, Dio masuk. Bu Tari sudah duduk manis menantinya. Dalam perbincangan berdurasi 10 menit itu, Bu Tari menanyakan beberapa pertanyaan mengenai alasan kepindahan Dio, latar belakang pekerjaan keluarga Dio, dan lain-lain. Semunya Dio jawab dengan apa adanya.
Selesai bercengkrama bersama Bu Tari, Dio mohon ijin untuk kembali ke kelas. Ternyata Amar masih menungguinya di pintu ruang guru. Dio kira Amar sudah kembali ke kelas. Bel masuk sudah berbunyi dari tadi. “Sudah selesai? Mari kita kembali ke kelas.” Dio menurut. Ia mengikuti langkah pria yang cukup kekar ini dari belakang. Sesampainya di kelas, “Makasih ya.” Sahut Dio pelan. Amar hanya mengangguk-ngangguk. Kelas kembali berlangsung seperti biasa.
***
Hari ini Dio kembali mengunjungi pelabuhan. Ia ingin mengamati perilaku anak-anak itu semakin jauh. Mungkin ia mendapatkan naluri mengamati itu dari ayahnya. Ia menggunakan teropong pemberian ayahnya untuk melihat lebih jauh. Tampak anak-anak itu masih bermain dengan riangnya. Basah kuyup sambil menghitung rupiah demi rupiah hasil bekerja. Dio melihat sosok yang baru ia kenal. Ya, tak salah lagi itu Amar. Amar tampak asyik bermain bersama teman-teman sebayanya. Mereka menunggu kapal yang akan berlabuh.
Tiba-tiba Amar naik ke atas padahal anak yang lain masih di air. Ia mengenakan pakaian yang diletakkannya di atas. Ia lantas berdiri sambil mengantongi recehan yang ia dapat hari itu. Setelah ia melambaikan tangan pada teman-temannya, ia pun pergi. Tapi ia bukan melangkah menuju perumahan penduduk, ia malah pergi ke arah pantai berbatu di timur pelabuhan. Padahal langit sudah mulai gelap. Tapi apa peduli Dio.
Ternyata kebiasaan Amar ini berlangsung terus menerus. Ia berjalan ke arah pantai tiap selesai bekerja. Kadang-kadang walau hari sudah malam, ia tetap pergi ke pantai sebelum pulang ke rumahnya. Dio sempat berpikir bahwa Amar memuja semacam siluman di pantai. Atau mungkin dia broken home sehingga takut pulang ke rumah. Kejadian ini membuat Dio penasaran, namun ia tak berani menanyakan langsung pada Amar. Gengsinya masih saja membuncah dalam dada.
***
Suatu hari di hari minggu. “Ayaaah! aku butuh kaset video game lagi! yang kemarin kurang seru!” teriak Dio. “Aduh Dio, ayah lagi ngga punya uang nih. Lain kali saja ya. Kamu mungkin bisa coba kaset yang lainnya supaya tidak bosan.” “Udah aku tamatin semua yaaaah! Ya udah deh, kita makan di luar aja. Udah lama ga makan di luar.” “Haduh, memangnya di sekitar sini ada restoran?” mendengar jawaban ayahnya, Dio mengerutkan alisnya dan pergi keluar rumah. Panggilan ayahnya tidak digubris sama sekali. Ia sudah terlanjur emosi dan ingin keluar rumah mencari udara segar.
Dio langsung menuju ke pelabuhan. Di sana kebetulan masih sepi, mungkin karena hari masih siang. Dio duduk di atas pelabuhan. Ia menjulurkan kakinya ke air dan menggerak-gerakannya hingga basah. Di sana ia berpikir. Sejak kepindahan ayahnya ke pulau ini, Dio pikir ayahnya jadi berubah. Ia lebih sering di luar rumah untuk mengadakan pengamatan. Ia sering ditinggal sendirian di rumah. Kebutuhan yang biasa ia beli pun kini jarang dipenuhi. Contohnya saja video game, ayah bahkan tak punya uang sama sekali. Dio merasa sangat kesal dan ingin marah-marah.
“Hey! Sedang apa di sini?” seseorang datang dan duduk di samping Dio. Dio menatapnya lalu kembali menatap laut. “Kau sedang bersedih ya?” tanya Amar sekali lagi. Kali ini Dio menggangguk. Amar tersenyum. “Mengapa harus bersedih? Hidup ini harus dinikmati, kawan!” Amar menerawang jauh ke laut. Dio berpikir bagaimana bisa bersenang-senang dalam hidup seperti ini di tempat seperti ini. Sungguh aneh si Amar ini.
“Hmm Mar, aku mau nanya. Kenapa sih tiap pulang kamu selalu berjalan ke arah sana?” Tunjuk Dio. Amar tersenyum. “Mari saya tunjukkan!” Amar berdiri dan mengulurkan tangannya pada Dio. Dio menyambutnya dan berdiri. Dio mengikuti langkah Amar yang sudah terlihat lihai dalam melintasi batu-batu yang cukup besar dan tajam. Dio sampai terseok-seok langkahnya karena medannya memang sulit. Namun dengan sabar Amar menuntunnya terus.
Sampailah mereka di sebuah batu yang cukup besar dan rata. Arahnya pas sekali menghadap laut. Mereka berdua duduk di sana. “Tiap aku duduk di sini, aku selalu merasa senang. Rasa sedihku biasanya langsung hilang. Laut sudah menjadi temanku sejak kecil. Sejak kedua orangtuaku meninggal, aku sering sekali menyendiri di sini.” Mendengar tuturan Amar, Dio tersentak. “Kau sebatang kara?” tanya Dio. “Hmm... tidak. Aku tinggal bersama adikku di perkampungan padat di sebelah sana.” Tunjuk Amar.
“Lalu bagaimana kau bisa hidup tanpa orang tua?” “Yaa aku bersekolah di siang hari dan bekerja di sore hari. Malam harinya aku bisa membimbing adikku belajar.” Dio terperangah. “Lalu bagaimana kalian bisa membayar uang sekolah? Bukannya uang hasil memungut koin itu tidak seberapa?” Amar tersenyum lalu bangkit dari duduknya. Ia berjalan menuju tumpukkan batu dan mulai memindahkan batu-batu itu satu persatu. Tampak sebuah kaleng bekas susu kemasan menyembul dari dalamnya. Amar membawanya.
“Ini adalah tabunganku. Setiap habis bekerja, aku selalu menyisihkan untuk membayar sekolah. Memang jumlahnya jauh dari cukup, tapi aku dan adikku tak perlu mengemis pada tetangga untuk sesuap nasi.” “Adikmu ikut memungut koin juga?” “Tidak, aku biarkan dia fokus pada sekolahnya. Jangan dulu konsentrasi mencari uang. Aku saja yang akan membanting tulang untuk menghidupinya. Aku tak ingin dia lebih buruk dariku. Aku menaruh banyak harapan padanya. Lagipula pekerjaan memungut koin ini terlalu berbahaya untuknya. Bisa saja ia terhimpit kapal atau tenggelam. Aku tak ingin itu menimpa adikku. Dia satu-satunya keluargaku yang masih ada. Aku sangat menyayanginya. ” Amar menundukkan kepalanya.
Dio begitu kagum pada Amar. Dia merasa begitu bodoh. Sebagai anak, dia hanya tinggal menengadahkan tangannya untuk membeli sesuatu yang tidak begitu penting. Ia bahkan akan marah-marah jika keinginannya tidak dikabulkan. Setelah mendengar kisah hidup Amar yang tak seberuntung dirinya ia jadi merasa bersalah pada ayahnya. Ayahnya selalu berusaha memenuhi segala keinginannya. Lagipula kenapa ia mesti berlarut-larut dengan kepergian ibunya. Yang lalu biarlah berlalu. Ibu mungkin sudah bahagia di sana, di sisi tuhan.
“Mar, makasih ya!” Dio memeluk Amar tiba-tiba. Amar kaget. “Makasih buat apa?” “Buat cerita kamu.” Sahut Dio. Tanpa pikir panjang, Amar langsung membalas pelukan Dio hangat. Dio berjanji untuk berubah. Ia akan menjadi anak yang periang dan akan menyayangi ayahnya. Dio bersyukur telah menemukan teman sebaik dan sesabar Amar.
***
“Ayaaaaah...” Dio membenamkan dirinya dalam pelukan ayahnya. Ia memeluk ayahnya erat-erat. “Lho lho? Kenapa ini?” Dio tak menjawab ia terus memeluk ayahnya lebih erat. “Dio, kamu kenapa?” “Ngga yah, aku sayang ayah.” Jawab Dio lembut. Ayahnya senang sekali Dio kembali menjadi anak yang ceria. “Terima kasih Tuhan, engkau membuka hati anakku lagi” ucap ayah dalam hati. “Yah! Aku mulai senang tinggal di sini. Sampai lama pun tak apa yah!” Ayahnya kaget.
***
“Ayo Dio! Kau pasti bisa!” Amar berteriak-teriak dari bawah pelabuhan. Ia dan teman-temannya hendak menyambut Dio yang akan melompat. Dio yang sudah telanjang dada masih takut untuk melompat setinggi itu. Dulu ia memang les berenang, namun ia sudah lama tidak berenang. Namun dengan semangat yang ditularkan anak kampung pinggir laut itu, Dio akhirnya berani melompat. Itu adalah lompatan terjauh Dio. Ia sendiri tak menyangka telah melompat setinggi itu.
“Dio! Kau hebat!” puji Amar. Dio senang sekali. Di sana airnya dingin dan jernih. Sampah tidak berserakan di mana-mana. Dio bisa berenang kesana kemari. Ia bisa bermain semprot air bersama teman-teman barunya. Ia juga diajarkan cara bersalto di udara. Dio jadi semakin lihai beratraksi di air. Ia juga senang menyelam untuk beberapa meter ke dalam. Ia bisa mengamati indahnya bawah laut tanpa bantuan siapapun, tanpa alat apapun.
Dio takjub, darimana teman-temannya bisa mendapatkan kemampuan seperti ini. Dio akhirnya mendapatkan jawaban mengapa anak-anak ini selalu bahagia walaupun hidup di daerah yang seperti terisolir ini. Teknologi bukan apa-apa, tapi teman bisa mendatangkan kebahagian. Teman akan selalu ada di saat kita suka ataupun duka. Teman bisa memberikan kita solusi dan yang terpenting teman saling menolong dan menyayangi.
“Awas kapaaaal!” seseorang berteriak. Semua anak langsung memandang ke belakang. Semuanya sudah berenang dengan cekatan ke pinggir. Amar pun sudah sampai di bibir pelabuhan. Dio masih di air. Kemampuan berenangnya tidak secepat anak-anak di situ. Dio jadi tegang dan sulit berenang. Dio takut, kapal sudah mendekat. “Pegang tanganku!” sebuah tangan terjulur ke arahnya. Dio memegangnya erat dan tangan itu menariknya ke pelabuhan. Dio didudukkan sambil terbatuk-batuk karena menelan air. “Maaf ya Dio, kau jadi ketakutan.” Sahut Amar cemas. “Tak apa, Mar. Makasih kau telah mengajakku berenang di pelabuhan yang keren ini. Aku tak akan melupakannya.” Amar tersenyum.
***
Dipayungi langit sore, Amar dan Dio duduk di pantai. Mereka berdua menerawang jauh ke laut. Keduanya sudah jatuh cinta pada laut. “Mar, kata ayah besok kami akan kembali ke Jakarta.” Amar tersentak. “Kenapa cepat sekali? Kita belum berenang bersama lagi. Kita belum bermain ke hutan di sana!”. “Hmm.. mungkin lain kali. Entah kenapa aku pun tak mau pindah dari sini. Walaupun di sini belum semaju Jakarta, tapi di sini damai dan menyenangkan. Anak-anaknya bermain dengan alam secara langsung. Warganya masih saling bergotong royong dan tak ada perselisihan. Tapi aku memang harus pindah Mar. Mungkin nanti kita akan bertemu lagi. Makasih banyak ya, Mar!”
“Makasih buat apa?” “Buat semua pelajaran hidup yang kamu kasih ke aku.” Amar tersenyum pada Dio. “Mar! Antarkan aku ke rumahmu!” kata Dio tiba-tiba. Amar bingung. Dio berdiri dan memegang tangan Amar. Mereka berdua melintasi pelabuhan menuju perkampungan. Mereka melewati gang-gang sempit untuk sampai di rumah Amar. Mereka menyebrangi rawa yang cukup luas.
Amar menghentikan langkahnya. “Itu rumahku!” tunjuk Amar pada sebuah rumah panggung yang tidak terlalu besar. Mereka berdua memasuki rumah itu. Di dalamnya, seorang anak kecil yang bernama Amir sedang berkutat di dapur. “Mir! Ini teman abang yang sering abang ceritakan!” Amir berbalik dan langsung menyalami Dio. “Nama saya Amir. Ini pasti Bang Dio. Bang Amar suka cerita banyak tentang abang, tentang abang yang pemberani, tentang abang yang sering menolong Bang Amar.” Dio tersipu malu.
Bukankah selama ini Amar yang selalu menolongnya? Betapa mulia hati Amar. Dia tidak marah dengan segala perlakuan kasar Dio dulu. Amar sudah memaafkannya dengan tulus dan tetap mau berteman dengan Dio. Dio bertumpu di atas lututnya sehingga sejajar dengan Amir. Ia melepaskan gameboynya dan memberikannya pada Amir. “Mir, ini kenang-kenangan dari Bang Dio. Kamu bisa memainkannya bersama Bang Amar. Inget pesan Abang, kamu harus rajin belajar. Kamu harus bantu Bang Amar ya. Abang doakan kamu menjadi anak yang sholeh dan sukses kelak.” “Tapi, itukan pemberian ibumu Dio!” sahut Amar. Dio hanya tersenyum.
***
Kapal sudah menjauh dari pelabuhan. “Dah Diooo!”Amar dan Amir berdiri di ujung pelabuhan untuk melepas kepergian Dio dan ayahnya. “Makasih Bang Dio!” Amir berteriak dengan suaranya yang masih renyah. Dio hanya bisa melambaikan tangannya. Ia merasa berat untuk berpisah dengan kedua teman sebatangkaranya ini. Tak terasa air mata Dio jatuh menuruni pipinya. Ia merasa sudah mendapat banyak pelajaran di pulau ini. Ia juga sudah bisa berbagi manfaat dengan sekitarnya. Ini semua karena Amar. Terima kasih Amar.
8 comments
ini mah bikin penasaran ben ... -____- tar ya yang aku bentar aku bentar lagi mau di post.
ReplyDeletengga ah fi, aku mah dari kecil bacaannya bobo mulu sih. jadi alur ceritanya ga jauh dari situ. gampang ditebak ujungnya. kalo ga gentayangan, kuburannya meledak. naoon. sok post ! aku mau baca :) hehe
ReplyDeleteAyo Haifa, sudahh mulai penasaran tuh... ^____^
ReplyDeletePAsti dirimu akan membuat kejutan ya??? Hmmm... baiklah.. kunantikan...:)
ngga niat buat kejutan sih bu. kalo saya baca, ngga misterius juga sih. tapi syukur deh kalo ngiranya gitu, hehe ^^
ReplyDeletebeben ceritanya menyentuh hati (?) aku juga pengennya mah bikin yang kayak gitu tapi... asa anak-anak pisan aku bisi diketawain ._. jadi inget pas smp pernah ada tugas cerpen dan ceritanya aku yang nuansa anak-anak sendiri dari sekelas... mau post aaaaah hehehe
ReplyDeletekan judulnya oge penggemar berat Bobo. jadi moal jauh ceritana ti budak leutik. hehe. sepertinya gaya bercerita seseorang juga dipengaruhi bacaan yang ia baca ..
ReplyDeleteTuh kan bagus... hehehe... beben hebat :)
ReplyDeletekalau baca buku biologi gimana ntar cerpennya ben? :))
ReplyDelete